Sabtu, 23 April 2022

Paradigma Baru Pendidikan yang Memerdekakan

 Seseorang harus sudah merdeka sejak dalam pikiran,

sebelum benar-benar mampu menjalankannya.

 


Setelah Indonesia merdeka, hal tak kasat mata yang mempengaruhi keberhasilan untuk benar-benar lepas dari penjajahan adalah cara berpikir. Selepas perang mempertahankan kemerdekaan, Belanda memang sudah pergi dari Indonesia, tapi struktur ekonomi, administrasi negara, hingga pengaturan hukumnya masih tertinggal di sini. Pemerintah Sukarno kemudian mencoba memperbaikinya dengan melakukan nasionalisasi di berbagai bidang. Namun, di tengah prosesnya, peralihan kerangka berpikir dari model kolonial menjadi model yang merdeka adalah hal yang paling sulit dilakukan, bahkan mungkin hingga saat ini. Misalnya, jika sekarang Anda berpikir Belanda adalah negara hebat yang oleh karenanya wajar jika dulu Indonesia dikuasai oleh Belanda, maka kerangka berpikir Anda juga masih bermodel kolonial.

 

Dalam konteks merdeka belajar, kerangka berpikir atau paradigma yang baru juga menjadi prasyarat penting bagi keberhasilan pelaksanaannya. Seseorang harus sudah merdeka sejak dalam pikiran, sebelum benar-benar mampu menjalakankannya. Lalu apa yang dimaksud dengan paradigma baru dalam pendidikan?

 

Dunia pendidikan telah mengalami dinamika perkembangan yang panjang. Pada awal kemunculan pendidikan formal dengan segala atribut kelembagaan yang melingkupinya, pendidikan dipandang sebagai sebuah upaya pencerahan pikiran yang bebas untuk menemukan kebijaksanaan. Namun, sejak kooptasi pendidikan formal pada masa industrialiasi, pendidikan mulai dipandang sebagai sesuatu yang mekanis. Memiliki banyak prosedur terstandar yang menempatkan murid sebagai objek pengajaran. Murid dipandang sebagai kertas kosong yang perlu diisi dengan pola tertentu oleh orang dewasa (baca: guru). Secara kognisi mereka perlu menerima banyak pengetahuan melalui proses transmisi (pemindahan pengetahuan dari guru kepada murid), secara afeksi mereka perlu mengikuti perilaku yang diharapkan melalui proses pemberian stimulus yang terkontrol, dan secara psikomotor mereka perlu mempelajari keterampilan yang dibutuhkan dunia industri melalui proses peniruan yang repetitif (berulang-ulang).

 

Seiring perkembangan zaman, banyak bermunculan pandangan terhadap pendidikan yang lebih memerdekakan. Di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara adalah salah satu tokoh pentingnya. Namun, era di mana Ki Hadjar hidup belum memungkinkan terjadinya proses transformasi karena industrialisasi dengan modernismenya sedang gencar-gencarnya berlangsung di Indonesia. Pemikiran Ki Hadjar, bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memenuhi kodrat anak menuju kesejahteraan, terlalu melampaui zamannya. Meskipun ada sekian banyak pemikir lain di seluruh dunia yang turut memberikan pandangan pembaruan, eksistensinya hanya sebatas mendapatkan label sebagai sistem pendidikan alternatif.

 

Kini, di tengah perkembangan dunia yang semakin kompleks dan terbuka, pemikiran Ki Hadjar, juga banyak tokoh pembaruan pendidikan lainnya mulai mendapatkan ruang untuk menemukan relevansinya. Bahwa pendidikan adalah upaya pemberdayaan yang memerdekakan. Bahwa murid adalah subjek yang berdaya. Murid bukan lagi kertas kosong, namun kertas berisi yang masih samar, sementara tugas guru adalah menemukan dan menguatkan segenap isinya. Secara kognisi mereka perlu membangun sendiri pengetahuannya melalui proses yang konstruktif, secara afeksi mereka perlu menyadari perilaku yang sesuai melalui proses dialog yang reflektif, dan secara psikomotor mereka perlu mempelajari keterampilan yang dibutuhkan oleh dirinya sendiri melalui proses kreasi yang berkelanjutan.

 

Proses pendidikan yang memerdekakan sulit terjadi jika paradigma berpikir kita masih tertinggal di masa yang lama. Diferensiasi pembelajaran tidak akan berjalan jika guru belum mampu melihat keunikan murid dan masih mengharapkan standar tunggal bagi keberhasilan pembelajaran. Melatih agensi atau kepemimpinan murid tidak akan berjalan jika guru masih segan untuk memberikan murid kesempatan memilih dan bersuara. Membangun budaya yang positif tidak akan berjalan jika guru masih memandang murid sebagai pihak yang perlu terus dikontrol agar tetap baik. Melatih kemampuan kreasi tidak akan berjalan jika guru masih belum percaya untuk memberikan ruang yang luas bagi murid agar bisa berkembang sesuai dengan potensinya.

 

Perubahan, tidak akan terjadi jika kita belum memerdekakan diri sejak dalam pikiran untuk melepaskan belenggu paradigma lama dan menggunakan paradigma baru dalam pendidikan. Maka, pastikan Anda sudah memiliki paradigma baru jika ingin ikut bertransformasi, menyambut merdeka belajar.

 

Wallahu a'lam bishawab.


Copas: 

Komunitas Guru Belajar Nusantara

M. Rizky Satria

2021-11-22 11:17:19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar